Buku….Buku….Buku….

Mungkin buku adalah sumber rangsangan paling berharga bagi imajinasi anak. Tidak seperti  televisi, buku bersifat permanen.Anak selalu dapat kembali ke bukunya dan mengalami kembali suatu petualangan atau menjumpai lagi tokoh kesayangan.

Melepaskan diri dari dunianya ke dunia khayal yang sudah dikenalnya dapat membuat anak merasa aman. Tetapi lebih dari itu, buku dapat mendekatkan bagian dunia yang belum dikenalnya. Lanjut membaca

Yang Spesial…..

Tahun 2011? Pastinya kita semua ingin lebih baik dong dari tahun-tahun sebelumnya ya ga? Nah, begitu juga buku-buku yang kami hadirkan….. Lebih Oke, Hadiahnya lebih kereen…..Salah satunya adalah Ensiklopedi Bocah Muslim.

Biasanya ketika saya memberikan informasi tentang buku yang satu ini, banyak orangtua yang punya anak balita, berkeberatan dengan alasan,” Wah, anak saya masih kecil, tulisannya kecil-kecil, dan lain-lain…”. Padahal sih ketika saya mengenalkan Ensiklopedi Bocah Muslim pada Adel, si anak kedua, dari usianya 1 tahun. Dari mulai mengenalkan gambar-gambarnya terus saya berikan informasi singkat sampai, ia minta dibacakan sendiri. Tapi memang sih harus extra hati-hati takut dia menyobeknya.

Nah, sekarang telah hadir Mini Books dari Ensiklopedi Bocah Muslim, untuk membantu orangtua yang memiliki balita untuk mulai mengenalkan gambar-gambar yang mewakili tiap jilidnya tanpa harus merasa takut sobek karena terbuat dari boardbook.

Ayah Bunda….Mini Books ini terdiri dari dua bahasa loh…….Sehingga , ENSIKLOPEDI BOCAH MUSLIM,  sekarang terdiri dari 15 jilid mini books dan 15 jilid minibooks, 1 VCD, Harganya tetap…Nah, tunggu apalagi mumpung hadiahnya masih ada, segera dipesan ya….Informasi : Bubunnya Adel : 087822300355

Mega Promo Akhir Tahun…

Jangan Lewatkan Kesempatan ini…..Ayo segera miliki full program untuk si kecil dengan harga dashyat…!!!

informasi lebih lanjut : 087822300355/0813.2294.3755

Apalah Arti Sebuah Nama

Seorang pujangga besar pernah berkata,“Apalah Arti sebuah nama…”

Benarkah begitu?
Ada sebuah cerita lucu mengenai nama ini.  Zaman sekarang ini  , tidak banyak orangtua yang memberi nama anak: dedeh,siti. Sebaliknya, yang sering terdengar adalah nama-nama barat yang keren tanpa dipikirkan artinya, misal : Donna, Keanu (seperti nama pemain film). Ketika di rumah sakit seorang perawat pernah memanggil seorang pasien yang penuh ingus,” Keanu sujarwo”
Hehehe :)

Memberi nama ternyata bukan masalah sepele.  Bayi dianjurkan diberi nama yang bagus ,serta mengandung arti yang baik. Sebab, nama adalah do’a (Ensiklopedi Bocah Muslim jilid 2). Bahkan saya ketika tahu saya hamil, mulai mencari-cari buku tentang arti nama. Malah sempat terjadi keributan kecil setelah lahir.:)

Ya…memberikan nama yang baik adalah sebuah kewajiban orangtua terhadap anak.Ada sebuah hadits, seseorang datang pada rasulullah SAW dan bertanya     “Ya Rasulullah, apakah hak anakku ini? Rasulullah SAW menjawab, kau memberinya nama yang baik, memberi adab yang baik dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatimu).” (HR Ath Thusi).

Dalam pemberian nama ini, orangtua menjadi pihak yang aktif, sementara anak adalah pihak yang pasif.Namun jika nantinya ia mengetahui namanya ternyata mengandung arti yang tidak baik, dia dianjurkan untuk mengganti nama.

Ternyata persoalan memberi nama ini susah-susah gampang, tergantung kita. Kalau mau gampang, beri saja anak kita nama apapun tanpa memikirkan apakah namanya itu mengandung arti yang baik atau tidak. Sebaliknya, kalau mempertimbangkan bagaimana Islam memandang pemberian nama ini, tentu kita kan berusaha sungguh-sungguh, bekerja cerdas dalam merancang nama untuk buah hati.

Sumber : Ensiklopedi Bocah Muslim, Majalah Alia, Majalah Ummi

Fokus pada Proses…

Ayah Bunda….
Kewajiban orangtua adalah mendidik anak dengan sepenuh hati (sungguh-sungguh dan ikhlas).
Terutama fokus pada proses bukan hasil.
Hal yang penting dilakukan orangtua adalah menunaikan kewajiban mendidik, sebagai proses, bukan kewajiban mencetak anak sholeh. Baik buruk anak berada di tangan Allah. Jika Orangtua sudah bekerja keras mendidik anak, kemudian bertawakalla kepada Allah, yang di tangan-Nya kebaikan dan keburukan seseorang untuk berharap hasil didikan yang baik.

Orangtua tidak boleh bersedi hati bila ketidakberhasilan mengasuh anaknya itu semata-mata karena alasan ketidakmampuan. Ketidakmampuan ini meliputi berbagai bentuknya. Baca dan hibur diri dengan ayat Qur’an berikut :
“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (At-Taubah :91) Lanjut membaca

PERAN ORANGTUA

Dalam proses pendampingan, hendaknya orangtua bertindak sebagai fasilitator yang tugasnya meliputi:

1. Memberikan rangsangan-rangsangan untuk mengembangkan aspek-aspek bahasa, intelektual, sosial, dan emosi pada anak, sesuai dengan karakteristik tahapan perkembangan anak balita.

 

2. Menciptakan lingkungan yang memberikan kebebasan, namun tetap terarah bagi anak balita dalam mengekspresikan perasaan dan pemikirannya.

3. Mengupayakan ketersediaan berbagai sumber belajar untuk menumbuhkan rasa ingin tahu anak balita, seperti buku, film, kaset, atau gambar.

4. Memberikan pujian kepada anak balitanya dengan tepat sehingga dapat menumbuhkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak tentang kemampuannya.

5. Menghindari kecenderungan “membandingkan” anaknya dengan anak lain, atau dengan tokoh-tokoh dalam buku, film, kaset secara terus-menerus. Kondisi tersebut dapat menurunkan motivasi anak balita untuk belajar.

(Sumber: Halo Balita, Panduan untuk Ayah dan Ibu terbitan Pelangi Mizan)

 



Kapan Seharusnya Anak Saya Mempelajari Alfabet dan Angka?

Banyak program di tempat penitipan anak atau prasekolah diklaim terpercaya, mengajarkan anak sedini mungkin untuk berhitung, menghafal alfabet, dan belajar berbagai macam konsep. Penekanan pada aktivitas pembelajaran tersebut adalah bagian dari tekanan masayarakat luas supaya anak-anak dapat belajar lebih banyak, lebih dini. Para penerbit buku membuat buku-buku belajar dan peranti lunak untuk membantu; perusahaan mainan menciptakan permainan untuk pembelajaran; pertunjukan televisi mengajarkan membaca alfabet dan angka-angka. Karena tekanan dari teman, tetangga, pakar pemerhati perkembangan anak, dan media, banyak orang tua merasa khawatir, jika anak mereka yang berusia 2, 3 atau 4 tahun belum dapat belajar bentuk, warna, huruf dan angka.

Bukan tak memungkinkan untuk mengajar anak mengingat dan mengulangi kembali serangkaian daftar singkat angka dari satu sampai sepuluh dan huruf-huruf. Tetapi, pemahaman akan konsep demikian biasanya tidak dapat dimulai hingga anak berusia 4 sampai 6 tahun.

Seorang anak berusia 3 tahun mungkin mengetahui bahwa menyebutkan 1, 2, 3, 4 disebut berhitung, tetapi mungkin tidak memahami angka 6 mewakili 6 benda. Baginya belajar menghafal alfabet seperti belajar menghafal bahasa asing tanpa memahami maknanya.

Seorang anak tidak dapat diajar untuk memahami konsep angka dan huruf sebelum dia siap. Secara perlahan, setelah mencari tahu dengan benda, bertanya kepada orang tuanya dan orang lain, mengamati lingkungan sekitarnya, dan menjelajah, anak belajar apa arti angka dan huruf itu. Apabila keingintahuan alamiahnya didukung dan mempunyai benda-benda yang dapat membantu mencari tahu, dia akan belajar konsep angka dan huruf dengan mudah.

Tetapi, terlalu banyak penekanan pada pendidikan dini akan melemahkan dan menghilangkan dorongan alamiah anak untuk belajar. Orang tua seharusnya menunggu hingga anak menunjukkan minat yang spontan terhadap huruf, kata, dan konsep angka, kemudian menindaklanjuti dengan apa yang dapat dilakukan.

Tidak selalu perlu sekolah karena orang tua dapat menyediakan sejumlah materi pembelajaran untuk anak-anak. Warna, bentuk, angka dan huruf adalah bagian dari apa yang dilakukan anak, sehingga mereka dapat belajar mengenai hal ini secara alamah. Setiap hari, seorang anak mendengar, “Kenakan celana pendek birumu”, “Kamu ingin krayon. warna merah atau hijau?”, “Ini adalah 3 keping biskuit”, “Lihat truk yang besar itu.” Anak terus belajar dari pemaparan konsep itu dalam keseharian mengenai kesamaan dan perbedaan (Susu berbeda dari jus, lbu berbeda dari Ayah), lembut dan keras, besar dan kecil.

Anak dan mendengar orang dewasa menghitung, membaca, dan mengamati kata-kata dan angka di mana-mana.

Anak belajar mengenal aksara ketika orang tuanya membacakan cerita kepadanya setiap hari, atau dengan sabar mengulangi cerita kesukaannya. Secara bertahap, Anda akan mendengar anak bertanya, “Berapa banyak ini?”, “Warna apa ini?”, “Apa yang dikatakannya?” Anak mulai berhitung keras. Untuk pertama kali tentu tidak mampu menghitung dalam urutan yang benar, dan dia akan menulis kata-kata di atas kertas, sering pula menciptakan kata-kata tidak masuk akal atau menulis namanya secara terbalik. Cobalah untuk tidak membetulkannya terlebih dulu. Lebih baik mendukungnya untuk tetap berhitung dan menulis.

Anak akan belajar dengan pemahamannya “tanpa tekanan” karena dia tertarik dan termotivasi sendiri. Kemudian, saat dia berada di taman kanak-kanak dan tingkat pertama, Anda akan melihat anak membuat langkah yang pesat dalam memahami bahasa dan maternatika.

Cuplikan dari Buku Pintar Orang Tua, Robin Goldstein, Ph.D., with Janet Gallant, Primamedia Pustaka, hal.175